Minggu, 23 Februari 2014

PENGAJARAN DI PONDOK PESANTREN

Di daerah jawa timur khususnya banyak berdiri pondok -pondok pesantren dari yang sederhana sampai yang moderen. tapi pada umumya cara pengajarannya sama. Saya juga alumni pondok pesantren terkenal di jawa timur. Alhamdulillah saya banyak mendapat ilmu agama yang bermanfaat bagi kehidupan saya. Tapi saya juga agak menyesal dengan cara pengajaran dipesantren waktu itu, karena setelah keluar saya merasa kesulitan membaca langsung dari kitab-kitab yang telah saya pelajari dipesantren, kalaupun bisa menelaah membutuhkan waktu agak lama. Karena sistem kitab kuning yang memaknai perkata (mengartikan perkata). Saya akan menyoroti sedikit pengajaran yang dilakukan dipesantren terutama yang menggunakan metode lama.
  • Pengajaran klasikal nahwu shorof.
Pengajaran klasikal nahwu shorof tidak efektif dengan cara lama yaitu guru menerangkan dan memaknai perkata dari kitab kuning, santri disuruh menghafal nadhom, karena setelah santri keluar dari pondok tidak semua santri menjadi pengajar /guru.
Solusi :
langsung beri pengajaran dengan memberikan diktat / buku pedoman yang ingin diajarkan,diktat atau buku yang ingin diajarkan hendaknya sudah dalam terjemahan dalam bahasa indonesia, dan santri sebelum pertemuan harus mempelajari atau membaca sendiri sebelumnya, sehingga guru tinggal menerangkan saja. Setelah pengajaran selesai berisoal pada bab yang baru saja diajarkan dan dibahas pada pertemuan berikutnya.
Kelemahan cara lama :
Santri disuruh memaknai dari kitab kuningnya kemudian menulis apa yang dituliskan guru dipapan tulis, setelah itu guru menerangkan. Hal ini memakan waktu yang lama hanya untuk menulis saja. Padahal yang penting adalah keterangan dari sang guru itu sendiri. Seadangkan waktu santri mondok sangat terbatas terutama santri moderen yang mondok sama sekolah.
Dengan cara pemberian dikatat diharapkan dalam satu tahun pelajaran nahwu shorof bisa selesai. Hendaknya pula memberikan pengajaran nahwu shorof dengan mempelajari kitab pada level tertinggi semisal alfiyah, karena kitab nahwu shorof yang pada level dibawahnya percuma diajarkan karena alfiyah sudah mencakup bahkan lebih dari kitab dilevel bawahnya, agar tidak buang-buang waktu saja. Santri juga tidak perlu menghafal nadhoman, toh setelah keluar dari pesantren tidak semua jadi guru, tapi bagi yang bercita-cita jadi guru ada baiknya menghafal nadhoman, untuk mempermudah ingatan saja. Sebenarnya yang dibutuhkan santri itu hanya pemahaman dari kitab yang dipelajari,.  Apalagi yang menempuh dua jalur yaitu jalur pendidikan resmi (sekolah) dan mondak ( pengajaran dipesantren).
Demikian tulisan saya semoga bagi para pemilik pesantren bisa memikirkan kembali sistem pengajaran dipesantrennya. Banyak pesantren tutup karena sistem lama diterapkan dan regenerasi yang payah. Terutama pesantren kecil, Meskipun pesantrennya kecil jika bisa mencetak generasi yang mumpuni pasti akan dilirik orang, dan akan menarik santri-santri baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar